Wanita Lebih Memilih Akses Internet Daripada Berhubungan Seks


Hampir satu dari dua wanita akan lebih suka tidak melakukan aktivitas seksual selama dua pekan ketimbang tanpa akses Internet, demikian menurut survei yang disiarkan Senin.

Sebaliknya, jauh lebih sedikit kaum pria akan memilih tanpa seks, demikian menurut survei atas 2.119 orang dewasa yang dilakukan perusahaan riset online Harris Interactive dan disponsori oleh Intel Corp., perusahaan pembuat chip komputer terbesar di dunia.

Empat puluh enam persen wanita yang diminta pendapatnya dalam jajak pendapat (poll) mengemukakan mereka lebih memilih tanpa seks selama dua minggu daripada tanpa okses ke Internet pada periode yang sama, kata survei tentang “Kepercayaan Terhadap Internet dalam Perekonimian Dewasa Ini”.

Hanya 30 persen kaum pria yang menyatakan mereka lebih suka hubungan yang intim daripada menjelajah dunia maya.

Sebanyak 95 persen dari mereka yang disurvei mengatakan “sangat penting atau agak penting” untuk dapat mengakses Internet.

Sekitar 65 persen responden memberikan peringkat akses Internet di atas pengeluaran lainnya, seperti langganan televisi kabel (39 persen), makan di luar (20 persen), membeli baju (18 persen) atau keanggotaan klub kesehatan (10 persen).

Kebanyakan responden wanita (61 persen) mengatakan mereka lebih senang tak menonton televisi selama dua pekan ketimbang tak mempunyai akses internet seminggu saja.

Menurut Harris Interactive dan Intel, survei tersebut dilakukan pada 18-20 Nopember. Mereka tidak memberikan berapa persen toleransi kesalahan (margin error) hasil survei.

Selengkapnya......

Chip Seks Sedang Dikembangkan Untuk Membuat Wanita Menjadi Aktif Dan Menyenangi Seks

“Chip seks” yang dapat merangsang gairah sedang dikembangkan oleh para ilmuwan.
Situs berita Telegraph melaporkan, chip itu akan ditanam di kepala dan elektroda-nya akan menghasilkan kejutan listrik sangat kecil.
Teknologi tersebut telah digunakan di Amerika Serikat untuk mengobati penyakit Parkinson.
Dalam beberapa bulan terakhir para ilmuwan berkonsentrasi pada kawasan otak di belakang mata yang disebut sebagai korteks orbitofrontal. Daerah tersebut terkait dengan perasaan senang yang berasal dari makan dan seks.
Sebuah penelitian survei yang dilakukan oleh Morten Kringelbach dari jurusan psikiatri Universitas Oxford, menemukan bahwa korteks orbitofrontal kemungkinan dapat menjadi “sasaran stimulasi baru” untuk menolong penderita anhedonia atau ketidakmampuan merasakan kenikmatan dari kegiatan seperti makan dan seks.Temuan itu dilaporkan dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience.
Profesor bedah saraf, Tipu Aziz, mengemukakan : “terdapat bukti bahwa chip ini akan berfungsi. Beberapa tahun lalu ilmuwan menanam perangkat tersebut ke otak seorang perempuan yang tidak atraktif secara seksual dan dia berubah menjadi perempuan yang sangat aktif secara seksual. Dia tidak suka perubahan yang mendadak itu sehingga alat di kepalanya itu diangkat.”
Namun dia menambahkan bahwa teknologi saat ini, yang mengharuskan bedah untuk menghubungkan kabel dari alat pacu jantung ke otak, dapat menyebabkan pendarahan dan “intrusif serta kasar”.
Ia melanjutkan: “Bila teknologi ini telah semakin baik, kita dapat menggunakan stimulasi otak ini untuk berbagai area baru. Kerjanya semakin halus dan bisa lebih dikendalikan sehingga bisa dimatikan atau dinyalakan saat dibutuhkan.
“Dalam 10 tahun mendatang akan tercipta berbagai terapi yang menakjubkan - setengahnya saja belum bisa kita bayangkan.”
Sebuah mesin elektronik, yang bernama Orgasmatron, nama yang diambil film Sleeper garapan Woody Allen 1973, sedang dikembangkan oleh seorang dokter di Carolina Utara.
Orgasmatron mengubah sebuah stimulator saraf tulang belakang untuk menghasilkan gairah pada diri perempuan.

Selengkapnya......

Ciuman Penuh Nafsu Dapat Menyebabkan Penurunan Pendengaran Hingga Tuli

Ciuman yang penuh birahi memecahkan gendang telinga seorang wanita muda di China selatan, media negara melaporkan, Senin, seperti dilansir AFP.

Gadis berusia sekitar 20 tahun dari Zhuhai, Provinsi Guangdong, itu dirawat para dokter rumah sakit setelah pendengarannya pada telinga kiri lenyap sama sekali, tulis China Daily, mengutip Guangzhou Daily.

“Ciuman itu mengurangi tekanan di dalam mulut, mendorong ke luar gendang telinga dan menyebabkan kerusakan telinga, kata dokter yang merawatnya, dengan nama panggilan Li, sambil menambahkan pendengaran wanita itu akan pulih sekitar dua bulan lagi.

Kejadian tersebut mendorong berbagai koran menyajikan berbagai petunjuk tentang ciuman yang aman.

Sekalipun ciuman pada umumnya aman, para dokter mendesak semua orang agar berhati-hati, kata China Daily.

“Ciuman yang membara boleh jadi menyebabkan ketidakseimbangan tekanan udara di bagian dalam telinga, sehingga mengakibatkan pecahnya gendang telinga, tulis Shanghai Daily, sebuah koran berbahasa Inggris, dengan judul “Ciuman Tuli”

Selengkapnya......

Hindari Gigitan Nyamuk Mengganaskan..!!!!

Memasuki musim hujan, serangan penyakit demam berdarah dengue patut diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu telah menelan banyak korban.
Namun, segala upaya untuk memutus mata rantai penularan penyakit itu masih kurang efektif.
Di tengah ketidakberdayaan melawan demam berdarah dengue di berbagai negara tropis di dunia, sekelompok peneliti Australia didanai miliarder Bill Gates mengklaim telah menghasilkan riset yang dapat membantu memerangi DBD dengan cara menghentikan jalur penularan penyakit itu.
Mereka berhasil menginfeksi nyamuk penyebar penyakit tropis itu dengan bakteri Wolbachia sehingga kemampuannya menularkan dengue ke manusia berkurang.
Caranya, dengan menginfeksi nyamuk pembawa penyakit itu dengan parasit yang memperpendek masa hidup nyamuk itu. Dalam paparan hasil penelitian pada jurnal Science dijelaskan, bakteri Wolbachia menyebar dengan baik melalui uji laboratorium pada nyamuk-nyamuk yang berkembang biak.
Dengue hanya dibawa nyamuk dewasa sehingga membunuh mereka bisa memutus mata rantai penularan DBD. Mereka telah menginfeksi 10.000 embrio nyamuk dengan bakteri itu. Tes itu untuk melihat sejauh mana bakteri itu bisa mengurangi masa hidup serangga tanpa membunuhnya atau mencegah perkembangbiakan mereka
Para peneliti dari Universitas Queensland di Brisbane, Australia, mengambil strain yang dikenal dengan nama Wolbachia untuk memperpendek masa hidup nyamuk vektor DBD. Nyamuk yang membawa virus dengue tak secara alami rentan terhadap bakteri sehingga peneliti membuat nyamuk beradaptasi agar infeksi itu berhasil.
Bakteri itu dapat menyebar dari nyamuk betina yang terinfeksi kepada keturunannya. Hal ini bisa memperpendek masa hidup nyamuk itu dan embrionya.
Penentuan apakah hal itu dapat menghilangkan nyamuk pembawa virus merupakan tantangan tersendiri. Virus itu menyerang manusia saat nyamuk membawa virus tersebut dalam darah. Selama ini pemberantasan nyamuk dilakukan dengan insektisida, tetapi hal ini bisa menimbulkan resistensi nyamuk terhadap paparan bahan kimia.
Potensi Wolbachia sebagai satu jalan pengendalian populasi nyamuk cukup menjanjikan. Studi terakhir menawarkan harapan—meskipun di bawah kondisi laboratorium—bahwa hal itu kemungkinan berjalan efektif. ”Kuncinya adalah hanya nyamuk berusia sangat tua yang dapat menularkan penyakit itu,” kata Prof Scott O’Neill, peneliti.
Ini berarti hanya nyamuk dewasa yang berbahaya bagi manusia dan dengan membunuh nyamuk-nyamuk itu akan mengurangi kemampuan mereka menginfeksi. Upaya ini dinilai jalan murah untuk mengatasi masalah itu, khususnya di daerah urban saat metode lain pengendalian penyakit itu sulit dilakukan

Selengkapnya......

Orang Optimis Lebih Survive Dibanding Pesimis



Orang yang optimistis hidup lebi lama, lebih sehat dibandingkan orang yang pesimistis, kata beberapa peneliti AS, Kamis (5/3), dalam studi yang mungkin memberi kaum pesimistis satu lagi alasan untuk menggerutu.

Para peneliti di University of Pittsburgh mengkaji angka rata-rata kematian dan kondisi kesehatan kronis di kalangan pasien dalam studi Women`s Health Initiative –yang telah mengikuti perkembangan lebih dari 100.000 perempuan yang berusia 50 tahun ke atas sejak 1994.

Perempuan yang memiliki sifat optimistis –orang yang memperkirakan sesuatu yang baik dan bukan buruk akan terjadi– 14 persen kurang mungkin untuk meninggal akibat penyebab apa pun dibandingkan dengan orang yang pesimistis, dan 30 persen kurang mungki untuk menghembuskan nafas akibat sakit jantung setelah delapan tahun pengamatan dalam studi tersebut.

Orang yang optimistis juga kurang mungkin untuk menghadapi tekanan darah tinggi, diabetes atau menghisap rokok.

Tim tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Hilary Tindle, juga meneliti perempuan yang sangat tak percaya pada orang lain –satu kelompok yang mereka sebut “bermusuhan sangat sinis”– dan membandingkan mereka dengan perempuan yang lebih mempercayai orang lain.

Perempuan di dalam kelompok bermusuhan secara sinis cenderung untuk setuju dengan pertanyaan seperti: “Saya seringkali harus menerima perintah dari seseorang yang tak mengetahui sebanyak yang saya ketahui” atau “Paling aman tak mempercayai seorang pun”, kata Tindle dalam suatu wawancara telefon dengan wartawan kantor berita Inggris, Reuters.

“Pertanyaan ini membuktikan rasa tak percaya umum pada orang lain,” kata Tindle, yang menyajikan studinya pada Kamis dalam pertemuan tahunan American Psychosomatic Society di Chicago. Pola berfikir semacam itu merenggut korban.

“Perempuan yang bermusuhan secara sinis 16 persen lebih mungkin untuk meninggal (selama masa studi) dibandingkan dengan perempuan yang tak terlalu bermusuhan secara sinis,” kata Tindle.

Mereka juga 23 persen lebih mungkin menemui ajal akibat kanker.

Tindle mengatakan studi itu tak membuktikan sikap negatif mengakibatkan dampak kesehatan negatif, tapi ia mengatakan semua temuan tersebut benar-benar akan memperlihatkan keterkaitan pada suatu hari nanti.

“Saya kira kita benar-benar memerlukan penelitian lebih lanjut guna merancang pengobatan yang akan ditujukan kepada sikap manusia guna melihat apakah semua itu dapat diubah dan apakah perubahan itu bermanfaat bagi kesehatan,” katanya.

Dan Tindle mengatakan meskipun seorang pesimitis mungkin berpendapat, “Takdir saya sudah diputuskan. Tak ada yang dapat saya lakukan, saya tak yakin itu benar. Kita `kan tidak tahu”

Selengkapnya......
 
Cebong`s Notez
---- ,. Green World Blogger Template---- © Template Design by Herro